Gus Yusuf Chudlori: Jangan Percaya Mitos Bulan Suro, Ini yang Seharusnya Kita Lakukan

Mari jadikan bulan Suro atau Muharram sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan malah menjauh karena takut mitos.

Admin
3 Min Read

Banyak orang Jawa masih percaya bahwa menikah di bulan Suro (Muharram) akan membuat rumah tangga tidak dikaruniai keturunan. Anggapan ini, menurut Gus Yusuf Chudlori, sama sekali tidak benar.

Dalam tausiyahnya, Gus Yusuf menegaskan bahwa kepercayaan semacam itu tidak memiliki dasar dalam ajaran agama. Ia pun mengajak umat Islam untuk memahami akar sejarah di balik mitos tersebut agar tidak terjebak dalam khurafat.

Kisah Nabi Musa dan Laut yang Terbelah

Gus Yusuf mengingatkan salah satu kisah agung dalam sejarah para nabi: ketika Nabi Musa AS dan kaum Bani Israil dikejar Firaun beserta bala tentaranya. Atas izin Allah SWT, Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut, lalu laut pun terbelah menjadi dua jalan kering. Kaum Musa selamat menyeberang, sementara Firaun dan pasukannya tenggelam.

Peristiwa besar itu terjadi pada bulan Muharram. Karena Firaun adalah raja zalim yang mati di bulan ini, sebagian masyarakat Jawa kemudian mengaitkannya dengan kesan “angker” dan penuh larangan pada bulan Suro.

“Orang Jawa memang pintar sekali membuat gotak-gatuk (perumpamaan atau kaitan),” ujar Gus Yusuf sambil tersenyum.

Tradisi Jamasan Pusaka yang Populer

Dari kisah tongkat Nabi Musa itulah muncul tradisi mencelupkan atau menjamas keris dan pusaka pada bulan Suro. Masyarakat seolah menghubungkan mukjizat pembelahan laut dengan ritual membersihkan benda pusaka, seolah ada kekuatan magis di dalamnya.

Padahal, menurut Gus Yusuf, keduanya tidak ada hubungannya sama sekali.

“ Nabi Musa mencelupkan tongkat ke laut sehingga laut terbelah. Lalu muncul tradisi mencelupkan keris atau menjamas pusaka pada bulan Suro. Padahal keduanya tidak ada kaitannya,” tegasnya.

Lebih Baik Sibuk Ibadah, Bukan Mitos

Gus Yusuf mengajak umat Islam untuk tidak terlalu sibuk dengan mitos dan kepercayaan yang tak bersumber dari agama. Bulan Muharram adalah bulan mulia yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya terdapat banyak waktu mustajab untuk berdoa.

“Yang jauh lebih penting adalah menjadikan Muharram sebagai bulan untuk memperbanyak doa, puasa sunnah, bersedekah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan meningkatkan amal saleh lainnya,” katanya.

Ia menutup tausiyahnya dengan pesan yang menggugah:

“Bulan Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya terdapat banyak momentum dan waktu-waktu mustajabah. Maka, jangan disibukkan dengan mitos, tetapi sibukkan diri dengan ibadah agar memperoleh keberkahan dari Allah SWT.”

Mari jadikan bulan Suro atau Muharram sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan malah menjauh karena takut mitos. Bulan yang penuh berkah ini jauh lebih indah jika diisi dengan amal kebaikan, bukan ketakutan yang tidak berdasar.

Semoga kita semua termasuk hamba yang selalu memanfaatkan bulan-bulan mulia untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Share This Article
Tidak ada komentar
error: Content is protected !!