Dorongan Poros Damai di PBNU Menguat, Gus Yusuf Chudlori Dinilai Layak Jadi Calon Ketua Umum

Gus Yusuf menegaskan bahwa dinamika menjelang Muktamar tidak boleh memperuncing perbedaan. Semua proses harus dijalankan dengan adab, musyawarah, dan penuh penghormatan kepada para kiai.

Admin
3 Min Read

Suasana menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama semakin dinamis. Di tengah polemik internal yang mulai memanas, muncul dorongan kuat untuk menghadirkan figur alternatif yang bisa menjadi “poros damai” di tubuh PBNU.

Salah satu nama yang kini santer disebut adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori, atau yang akrab disapa Gus Yusuf, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang. Gus Yusuf dinilai memiliki profil yang pas sebagai pemimpin tengah yang bisa merangkul semua pihak.

“NU saat ini butuh figur yang bisa menjadi titik temu. Bukan bagian dari konflik, tapi mampu menjembatani dan merangkul semua kalangan,” ujar Muslih Hasyim, mantan Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).

Bukan Pertarungan Dua Kubu

Menurut Muslih, Muktamar NU seharusnya bukan sekadar arena pertarungan elite, melainkan forum permusyawaratan tertinggi yang menjaga marwah ulama dan adab jam’iyyah. Karena itu, kehadiran figur alternatif dianggap penting untuk membuka ruang konsolidasi baru dan meredakan ketegangan.

Gus Yusuf dinilai memenuhi kriteria tersebut. Selain berlatar belakang pesantren yang kuat, ia memiliki pengalaman luas di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, hingga jejaring sosial keagamaan.

“Gus Yusuf punya modal pesantren, pengalaman organisasi, dan gaya komunikasi yang relatif diterima banyak pihak. Dalam situasi seperti sekarang, NU butuh pemimpin yang tidak menambah panas, tapi justru mendinginkan suasana,” tambahnya.

Karakter yang Dibutuhkan NU

Banyak warga NU berharap suksesi kepemimpinan PBNU berjalan lebih sehat, tanpa memperlebar pembelahan di tubuh organisasi. Gus Yusuf dinilai memiliki kepemimpinan yang tenang, egaliter, dan dekat dengan berbagai lapisan masyarakat Nahdliyin.

Karakter ini dianggap sangat relevan untuk menjaga soliditas NU pasca-Muktamar.

Menanggapi dorongan yang beredar, Gus Yusuf menyampaikan apresiasi sekaligus sikap hati-hati. Saat bertemu dengan 26 PCNU se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, ia mengatakan:

“Saya menghormati setiap aspirasi yang muncul. Bagi saya, yang paling penting adalah bagaimana NU tetap rukun, teduh, dan terus berkhidmah untuk umat.”

Gus Yusuf juga menegaskan bahwa dinamika menjelang Muktamar tidak boleh memperuncing perbedaan. Semua proses harus dijalankan dengan adab, musyawarah, dan penuh penghormatan kepada para kiai.

“NU ini pesantren besar. Siapa pun yang berkhidmah di dalamnya harus menjaga pesantren ini tetap utuh. Jangan sampai perbedaan pandangan membuat kita kehilangan adab dan persaudaraan,” pungkasnya.

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar
error: Content is protected !!